Dua warisan sastra Melayu yang telah diwariskan turun-temurun — pantun dengan kecerdikan sampirannya, syair dengan narasi panjang penuh hikmah.
4 baris, rima a-b-a-b, ada sampiran dan isi
"Buah cempedak di luar pagar,"
Pantun nasihat yang mengajarkan rendah hati dan terbuka menerima masukan.
"Kalau ada sumur di ladang,"
Pantun perpisahan yang penuh harap akan pertemuan kembali di masa mendatang.
"Ke mana hendak ku tuju,"
Pantun cinta yang mengungkapkan kesetiaan hati kepada satu orang yang dicintai.
"Anak ayam turun sepuluh,"
Pantun yang memberi semangat untuk terus menuntut ilmu meski menghadapi rintangan.
"Pohon kelapa tumbuh condong,"
Pantun nasihat tentang menghormati orang tua selagi mereka masih ada.
"Bunga melur bunga cempaka,"
Pantun kerinduan yang memperlihatkan bahwa jarak tidak memisahkan rasa.
4 baris per bait, rima a-a-a-a, semua baris = isi
"Wahai ananda dengarlah pesan,"
Syair nasihat berisi pesan moral untuk berbakti, berilmu, dan berakhlak mulia.
"Di bumi Melayu kita berpijak,"
Syair kebangsaan yang mengajak generasi muda menjaga warisan budaya Melayu.
"Pemuda pemudi harapan bangsa,"
Syair yang memotivasi pemuda untuk mengutamakan iman dan akhlak dalam kehidupan modern.
"Rimba Riau hijau membentang,"
Syair yang merayakan keindahan alam Riau sekaligus mengajak untuk menjaga kelestariannya.