Serindit
Balai Bahasa Provinsi Riau
Cerpen Perahu Kertas di Sungai Kenangan
Cerpen · Tradisi & Budaya

Perahu Kertas di Sungai Kenangan

Penulis Riau ·± 5 menit

Tradisi & Budaya ± 5 menit KeluargaTradisiRindu

Setiap sore, Mak Cik Rohani duduk di tepi sungai itu. Tangannya yang keriput selalu memegang selembar kertas — kertas yang akan segera ia lipat menjadi perahu kecil, lalu dilepas ke arus yang tenang.

"Untuk siapa perahu itu, Mak Cik?" tanya Amir, bocah tujuh tahun yang selalu menemaninya.

Mak Cik Rohani tersenyum. Kerut di wajahnya seolah menyimpan ribuan cerita. "Untuk abangmu yang jauh di rantau, Nak. Kata orang, kalau kita kirim doa lewat air yang mengalir, ia akan sampai ke mana saja hati bermukim."

Amir memandang perahu kertas itu berlayar pelan, berputar dua kali sebelum akhirnya menepi di balik akar pohon nipah. Ia tidak mengerti sepenuhnya, tapi ada perasaan hangat yang menjalari dadanya.

Sore itu, Amir pun meminta selembar kertas kepada Mak Cik. Ia melipat seperahu dengan tangan mungilnya, menuliskan nama abangnya, lalu melepaskannya ke sungai.

"Mak Cik, kalau perahu itu tenggelam bagaimana?" tanya Amir dengan serius.
"Tidak apa-apa, Nak," jawab Mak Cik sambil mengusap kepala Amir. "Doa yang sungguh-sungguh selalu sampai, walau lewat jalan yang tak kita sangka-sangka."

Pesan Moral

Cerpen ini menyampaikan nilai-nilai kearifan lokal Melayu tentang doa, pengharapan, dan ikatan keluarga.

Kembali ke Koleksi Cerpen

Info Cerita

GenreTradisi & Budaya
PenulisPenulis Riau
Waktu Baca± 5 menit
Tema
KeluargaTradisiRindu

Struktur Cerita

Orientasi

Perkenalan tokoh & latar

Komplikasi

Konflik berkembang

Klimaks

Puncak ketegangan

Resolusi

Penyelesaian & penutup

Cerpen Lainnya