Penulis Riau ·± 5 menit
Setiap sore, Mak Cik Rohani duduk di tepi sungai itu. Tangannya yang keriput selalu memegang selembar kertas — kertas yang akan segera ia lipat menjadi perahu kecil, lalu dilepas ke arus yang tenang.
Mak Cik Rohani tersenyum. Kerut di wajahnya seolah menyimpan ribuan cerita. "Untuk abangmu yang jauh di rantau, Nak. Kata orang, kalau kita kirim doa lewat air yang mengalir, ia akan sampai ke mana saja hati bermukim."
Amir memandang perahu kertas itu berlayar pelan, berputar dua kali sebelum akhirnya menepi di balik akar pohon nipah. Ia tidak mengerti sepenuhnya, tapi ada perasaan hangat yang menjalari dadanya.
Sore itu, Amir pun meminta selembar kertas kepada Mak Cik. Ia melipat seperahu dengan tangan mungilnya, menuliskan nama abangnya, lalu melepaskannya ke sungai.
Cerpen ini menyampaikan nilai-nilai kearifan lokal Melayu tentang doa, pengharapan, dan ikatan keluarga.
Orientasi
Perkenalan tokoh & latar
Komplikasi
Konflik berkembang
Klimaks
Puncak ketegangan
Resolusi
Penyelesaian & penutup